Scroll untuk baca artikel
NewsRamadhan

Menjaga Cagar Budaya Masjid Baiturrohman Lumajang

Avatar photo
21
×

Menjaga Cagar Budaya Masjid Baiturrohman Lumajang

Sebarkan artikel ini

Berusia 112 Tahun

JAKARTA- Masyarakat di sekitar Masjid Baiturrohman Desa Tukum Kabupaten Lumajang, Jawa Timur diajak ikut menjaga dan merawat bangunan bersejarah tersebut berusia 112 tahun tersebut.

Kepala Desa Tukum, Susanto yang akrab disapa Cak Santo menyerukan pentingnya menjaga bangunan masjid dalam acara Safari Ramadan kelima yang diadakan di Masjid Baiturrohman, Selasa (19/3/2024).

Dalam kesempatan tersebut, Cak Santo mengajak masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian bangunan yang telah menjadi bagian dari identitas sejarah dan budaya masyarakat di sekitar Masjid Baiturrohman .

“Dengan perawatan yang baik, kita dapat mencegah kerusakan dan menjaga agar nilai sejarahnya tetap terjaga,” ujar dia.

Masjid Baiturrohman, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial masyarakat setempat, dan telah diakui oleh pemerintah daerah sebagai cagar budaya yang harus dijaga dengan baik. Usia yang telah mencapai lebih dari satu abad menandakan pentingnya peran masjid tersebut dalam sejarah dan kehidupan masyarakat sekitarnya.

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Baiturrohman juga menjadi pusat kegiatan keagamaan yang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Tukum. Berbagai tradisi keagamaan dan budaya telah terjaga dan dilestarikan di lingkungan masjid tersebut, sehingga menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan keharmonisan masyarakat.

Dalam upaya pelestarian, pemerintah dan masyarakat setempat telah berkolaborasi untuk merencanakan program perawatan rutin dan renovasi yang diperlukan. Program tersebut tidak hanya melibatkan pengurus masjid dan pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar.

“Diharapkan dengan adanya kesadaran bersama ini, Masjid Baiturrohman akan tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan budaya lokal, serta tetap menjadi tempat ibadah yang ramah dan nyaman bagi masyarakat Desa Tukum dan sekitarnya,” harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

------