Scroll untuk baca artikel
Ramadhan

Masjid Tertua Kota Medan, Masjid Al Osmani Peninggalan Sultan Deli

Avatar photo
48
×

Masjid Tertua Kota Medan, Masjid Al Osmani Peninggalan Sultan Deli

Sebarkan artikel ini

Bagi Anda yang hendak bersafari menuju masjid-masjid bersejarah saat Ramadhan, ada sedikit informasi nih. Ternyata selain Masjid Raya Al Mashun di Medan, jejak sejarah kesultanan deli di ibu kota Sumatera Utara ini juga tersisa di Masjid Raya Al Osmani.

Masjid yang berjuluk sebagai masjid kuning ini, tercatat sebagai masjid tertua yang mulai dibangun pada tahun 1854 di masa kepemimpinan Sultan Osman Perkasan Alam, Sultan ke-7 Kerajaan Melayu Deli. Meski sudah berusia 2 abad lebih, Masjid Raya Al Osmani yang terletak di Jalan Kolonel Yos Sudarso Kilometer 17.5, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, masih terlihat berdiri kokoh. Bahkan terlihat megah pada malam hari.

Dengan warna dan bentuknya yang khas kesultanan deli, warga Kota Medan mengenalnya dengan masjid kuning, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Osman Perkasa Alam sebagai sultan ketujuh dari Kerajaan Melayu Deli pada Tahun 1854. Bangunan ini pertama kali didirikan dengan berbahan kayu pilihan. Meski sempat terhenti pada tahun 1870-1872, pembangunan dilanjutkan dengan menggunakan bahan bangunan permanen oleh putranya sebagai sultan kedelapan, yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam. Selain terlihat menara kembar di depannya, kubah masjid dibuat dari tembaga dan kuningan berbentuk segi delapan.

Semakin terlihat kemegahan masjid kesultanan ini, menandakan kekentalan nuansa islam pada masa Kerajaan Melayu Deli. Di mana masjid ini tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat dakwah dan penyebaran informasi kerajaan deli. Masjid Raya Al-Osmani menghadap ke sebelah timur membelakangi jalan raya, bangunan masjid memiliki serambi dan ruang utama.

Serambi berada di sisi timur, utara, dan selatan di mana di setiap bagian tengahnya terdapat penampil sebagai pintu masuk. Penampilan dihiasi dua buah tiang besar bersegi delapan dengan hiasan kuncup bunga di bagian puncaknya, masing-masing berada di kiri dan kanan pintu.

Penampil dan serambi merupakan ruangan terbuka, serambi memiliki atap sendiri yang di setiap sudutnya beratap kubah. Masjid yang memiliki tiga pintu dari setiap serambi untuk memasuki ruangan utama, berdiri empat buah tiang atau soko guru yang berbentuk segi delapan. Selain tiang, juga terdapat mihrab dan mimbar kedua yang disebut dikba. Keberadaan masjid ini, semakin lengkap adanya bedug yang usianya sudah ratusan tahun dan masih terus digunakan sebelum azan berkumandang.

Menurut badan kenaziran Masjid Al Osmani, Ustaz Ahmad Faruni, masjid kuning ini mengadopsi berbagai gaya arsitektur yang menggabungkan timur tengah, Asia dan Eropa, dan terlihat megah pada malam hari, dengan sinar lampu. “Di mana warna kuning adalah warna kemuliaan, apalagi terkena sinaran lampu warna kuning, membuat kemegahan masjid tersebut,” kata Ustaz Ahmad. Selama bulan Ramadhan, berbagai kegiatan seperti berbuka puasa bersama dengan memasak bubur pedas merupakan tradisi yang kini masih dilestarikan. Bubur tersebut nantinya akan dibagikan ke masyarakat untuk santapan berbuka puasa.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

------