Scroll untuk baca artikel
Politik

Media Asing Tiba-Tiba Sorot Jokowi Jika Tak Lagi Presiden, Kenapa?

Avatar photo
45
×

Media Asing Tiba-Tiba Sorot Jokowi Jika Tak Lagi Presiden, Kenapa?

Sebarkan artikel ini
Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto mendampingi Presiden RI Joko Widodo meninjau Alutsista TNI AU di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jumat (8/3/2024). (Dok. Biro Humas Setjen Kemhan)

JAKARTA- Masa depan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasca turun dari jabatannya menjadi sorotan media asing. Media Singapura, Channel News Asia (CNA), turut mengamati langkah politik presiden ke-8 RI itu pasca mengakhiri masa jabatannya pada Oktober mendatang.
Sebagaimana diketahui, Jokowi akan mengakhiri masa jabatan setelah memimpin Indonesia selama dua periode atau 10 tahun. Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) dan real count pemilihan presiden (pilpres) terakhir KPU, mantan rivalnya, Prabowo Subianto, hampir dapat dipastikan menggantikan posisi mantan Wali Kota Solo itu.

Prabowo sendiri unggul dengan menggandeng wakil yang merupakan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. Ini pun memicu posisi dilematis bagi Jokowi, yang merupakan kader PDI Perjuangan, karena partai itu mengusung Ganjar Pranowo sebagai calon presiden pesaing Prabowo.

Banyak pihak yang meramalkan bahwa Jokowi akan masuk ke menjadi anggota Partai Golkar setelah turun tahta. CNA menjelaskan bahwa posisi Jokowi untuk bergabung dengan Golkar “sangat bergantung” pada waktu kongres nasional partai tersebut.

“Jika kongres dilaksanakan pada bulan Desember 2024 sesuai jadwal setiap lima tahun sekali, pengaruh Jokowi mungkin akan berkurang karena beliau tidak lagi menjabat sebagai presiden,” tulis media itu mengutip pakar politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, dalam artikel ‘Potential Move to Golkar Could be An Avenue for Jokowi’s Post-presidency Power’, Kamis (14/3/2024).

“Namun, jika kongres dilakukan secara cepat ketika Jokowi masih menjabat, mungkin pada bulan September, ia dapat memegang kekuasaan yang besar. Skenario ini menunjukkan manuver strategis Jokowi untuk menguasai Golkar dan berpotensi melemahkan proses demokrasi,” tambahnya.

“(Bergabung dengan partai baru) memastikan dia punya ‘benteng sebagai tempat berlindung’ untuk menghindari masalah setelah keluar dari jabatannya … Jokowi berpotensi jadi sasaran jika tidak punya kekuatan sebagai tamengnya,” ujarnya.

Laman itu juga mengutip direktur eksekutif perusahaan konsultan politik Trias Politika Strategis, Agung Baskoro. Di mana sumber itu mengatakan bahwa pengaruh politik Jokowi akan memudar apabila masuk ke Golkar dan menjadi pimpinan partai beringin itu setelah dirinya turun tahta.

“Saat ini Airlangga (ketua umum Golkar) akan memprioritaskan Prabowo dibandingkan Jokowi,” kata Agung.

Agung menambahkan bahwa ia yakin bahwa Jokowi kemungkinan akan mengambil peran yang lebih sebagai penasihat di Golkar jika ia bergabung dengan partai tersebut. Baik di Dewan Pembina atau Dewan Penasihat.

“Saya ragu dengan niat Presiden Widodo untuk menduduki posisi pemimpin, terutama mengingat proses kaderisasi yang diperlukan kecuali ada amandemen konstitusi partai,” ujarnya.

“Oleh karena itu, sepertinya lebih cocok beliau menduduki jabatan di Dewan Pembina atau Dewan Penasehat. Hal ini akan membantu mitigasi potensi konflik politik internal jika keterlibatannya memerlukan perubahan atau adaptasi konstitusi partai agar sesuai dengan tujuan politiknya,” tambahnya.

Dimuat pula komentar Profesor Hubungan Internasional di Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Dr Yohanes Sulaiman. Ia mengatakan kepada CNA bahwa potensi Jokowi pindah ke Golkar dapat dipahami. Ini dikarenakan keterbukaan partai itu dan juga posisinya yang kuat di parlemen.

“Pertama, Golkar merupakan salah satu partai terbesar yang menang pemilu. Kedua, dibandingkan partai lain, cukup terbuka menerima pihak luar. Golkar dengan sistemnya yang terbuka, mudah menerima tokoh luar dan mengintegrasikannya ke dalam kepemimpinannya,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

------