Scroll untuk baca artikel
Opini

Suara Rakyat Suara Tuhan Versus Suara Rakyat Suara Iblis

Avatar photo
131
×

Suara Rakyat Suara Tuhan Versus Suara Rakyat Suara Iblis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Aktivis Kemanusiaan.

Kerajaan iblis (ilustrasi).

PITUTUR Latin “vox populi, vox dei“ alias “suara rakyat, suara Tuhan” sudah sangat sering digaungkan terutama oleh pihak yang (merasa) menang pada pemilihan umum.

Banyak teori tentang asal-usul ungkapan “vox populi, vox dei” yang saling beda satu dengan lain-lainnya.

Sahabat merangkap mahaguru kewartawanan saya, Taufik Darusman menyadarkan saya bahwa peribahasa keren tersebut dipetik dari sepucuk surat yang ditulis Alquis kepada Charlemagne pada 798 Masehi: “Nec audiendi qui solent dicere, vox populi, vox dei, quum tumultuositas vulgi semper insaniae proxima sit”.

Dialihbahasakan ke Indonesia kita-kira bermakna sebaiknya: Kita jangan mendengar sesumbar suara rakyat adalah suara Tuhan sebab kesepakterjangan massa selalu dekat dengan ketidak-warasan.

Berarti secara etimologis makna vox populi, vox dei sebenarnya tidak selalu bersifat positif, namun malah bisa negatif, maka sebaiknya jangan dipercaya.

Dari tafsir berdasar pengamatan subyektif saya terhadap perilaku para huruharawan Mei 1998 maupun dari makna yang tersirat pada “La rebeliao da massas” mahakarya Ortega Y Gasset atau “A tale of two cities” mahakarya Charles Dickens, dapat disimpulkan bahwa makna peribahasa vox populi, vox dei tidak selalu bersuasana positif sebagai yang umum diyakini.

Angkara murka yang nyata dilakukan massa pada masa Revolusi Perancis, Revolusi Bolshewik Rusia serta Revolusi Kebudayaan China maupun Tragedi G-30-S Indonesia juga tidak layak disebut sebagai vox populi, vox dei. Pada hakikatnya, apabila vox populi, vox dei dijabarkan secara konstitusional melalui jalur hukum, maka maknanya potensial konstruktif dan positif.

Namun jika diwujudkan dengan kekerasan atau kecurangan, maka vox populi, vox dei jelas rawan negatif, bahkan destruktif.

Berarti pada dasarnya, kualitas sifat vox populi, vox dei adalah kontekstual sehingga serta merta nisbi. Sepenuhnya kualitas senantiasa tergantung pada bagaimana pengejawantahannya, maka vox populi, vox dei rawan beralih wujud menjadi vox populi, vox diaboli alias suara rakyat, suara iblis

Maka setelah cermat menyimak kemelut deru campur debu berpercik keringat, air mata dan darah yang sedang terjadi di negeri tercinta kita ini adalah tugas kewajiban kita semua untuk mengawal dan menjaga marwah vox populi, vox dei jangan sampai berubah rupa menjadi vox populi, vox diaboli.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

------